Senin, 15 September 2008

Mimpi Anak Siantar (mencari pemimpin)

Saat anak bungsu saya (Daniel Agita Sinulingga) berulang tahun ke 4 (21 Juli 2008) begitu bahagianya melihat dia meniup lilin ulang tahunnya. Saat dia berulang tahun dihadiri teman sekolahnya di TK (kecil) mimpinya sungguh sederhana "hanya mendapatkan hadiah ulang tahun dari teman dan saudaranya" tapi dia memberi lebih bagi saya dengan melihat dia tumbuh menjadi kanak-kanak yang sehat dan energik.

Saat saya jauh dari kota yang saya cintai dan saat saya berumur sebagai orang dewasa diatas 40-an tahun mimpi kanak-kanak saya menjelma untuk menjadikan kota kehidupan masa remaja saya "Pematang Siantar" menjadi kota yang dihidupi oleh pohon - pohon kehidupan yang bisa dipanen oleh rakyatnya. Kota ini pernah dikenal dan dikenang sebagai kota sejuk, bersih dengan pemimpin yang bisa memimpin rakyatnya menanam pohon kehidupan. Kota ini mengajarkan masyarakatnya untuk menghargai perbedaan, mimpi anak Siantar hanya ingin melihat kota ini "ditumbuhi pohon kehidupan" dikota ini orang-orang yang sudah biasa hidup dengan perbedaan dapat memanen hasil ladangnya dan membesarkan generasi Siantar menjadi generasi pemimpin masa depan (mempunyai masa depan yang cerah).

Saya yakin anak-anak yang dibesarkan di kota yang mengajarkan bagaimana menghargai orang yang berbeda merupakan bibit - bibit unggul pemimpin masa depan. Dan inilah keunggulan kota ini. Mimpi saya dan teman-teman saya dari Siantar hanya ingin mewujudkan kota ini menjadi :
1. Kota yang hijau
2. Kota yang masyarakatnya secara ekonomi bisa menghidupi diri sendiri
3. Kota yang dipenuhi lembaga pendidikan yang berkualitas
4. Kota ini menjadi "kota pendidikan dan kota bisnis"


Ironisnya masa setelah tumbangnya orde baru (rezim Suharto) pemimpin kota yang semestinya membuat ladang untuk ditanami rakyatnya dengan pohon kehidupan dan sebagai fasilitator rakyatnya untuk mencapai mimpinya terjerat kasus - kasus korupsi. Pemimpin telah dipilih oleh rakyat sendiri. Ada apa yang salah dengan kota ini? Ada apa yang salah dengan yang memilih? Jawabnya sangat sederhana : Kota ini tidak salah, rakyat yang memilih tidak salah.

Kota ini menyediakan banyak kesempatan mulai dari : letak yang strategis, rakyat yang pluralis. Tapi kenapa pemimpin yang semestinya bisa membawa rakyatnya menanam pohon kehidupan dan memanen hasil yang berlimpah, malah sang pemimpin terjerat dalam kenistaan?

Rakyat yang memilih tidak salah yang salah adalah pilihannya, rakyat terpaksa memilih pemimpin - pemimpin yang sebenarnya tidak berkualitas sebagai pemimpin. Padahal banyak generasinya yang unggul yang lahir dari sejuknya kota ini yang bisa membuka ladang kehidupan untuk mengajarkan rakyatnya menanam pohon kehidupan yang akan dipenuhi buah untuk dipanen.

Syarat untuk mejadi pemimpin sebenarnya sangat sederhana :

1. Mempunyai pemikiran yang baik (IQ).
2. Mempunyai hati yang bersih (EQ)
3. Mempunyai keyakinan dan tekad yang kuat (SQ).

Pemimpin harus mempunyai dan dapat menyeimbangkan IQ,EQ dan SQ, diibaratkan sebuah pedang yang tajam mempunyai gagang yang baik digunakan oleh pendekar yang tangguh secara spritual.

Dalam pengibaratan ini mata pedang adalah kepintaran sang pemimpin (IQ) dan gagang pedang adalah hati sang pemimpin yang bersih (EQ) dan pendekar adalah gambaran keyakinan dan tekad pemimpin yang kuat untuk membangun kotanya.

Dalam wujudnya sang pemimpin mempunyai rencana - rencana yang sangat sederhana "yaitu rencana membangun kota dan masyarakatnya dengan target mengalokasikan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) untuk :

1. Lingkungan hidup:
  • mendidik rakyat untuk mencintai lingkungan bekerjasama dengan LSM lingkungan hidup
  • membuat Nursery (pembibitan tanaman: bunga, buah, dan tanaman hutan kota) yang dikelola oleh Dinas Pertamanan
  • menyebarkan tanaman kepada masyarakat untuk ditanam pada lahan kosong sekitar lingkungan mereka
  • membuat taman/hutan kota minimal 1 kecamatan 1 taman dengan target luas minimal 30% dari total luas wilayah.
  • membuat sumur resapan kolektif perwilayah dengan target 40 rumah 1 sumur resapan.
  • PDAM kota mencukupi kebutuhan air bersih dengan cara membangun tandon air perwilayah dan disalurkan melalui pipanisasi kesetiap rumah.

2. Membangun ekonomi rakyat :
  • membangun prasarana jalan outer ring road (yang mengelilingi kota) dan inner ring (yang membelah kota)
  • membangun pasar tradisional yang dikelola secara moderen perkecamatan minimal 1 pasar sebagai puast bisnnis rakyat
  • membuat lembaga pendidikan pemberdayaan ekonomi rakyat perbaikan mental & sepiritual (sekolah praktisi bisnis yang berlandaskan Pancasila), menciptakan enterpreneur
  • memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk berbisnis dengan men-gratiskan pengurusan ijin-ijin
  • bekerjasama dengan perbankan untuk menyalurkan kredit kepada tenaga - tenaga terlatih (lulusan sekolah praktisi bisnis)
3. Pendidikan :

  • membangun lembaga pendidikan khusus berasrama bagi masyarakat kota yang tidak mampu secara ekonomi tetapi berprestasi (sekolah kejuruan setingkat SLA)
  • memberdayakan guru-guru dengan membuat sekolah / lembaga training guru-guru untuk mencapai standard guru
  • membuat perpustakaan pada setiap sekolah dengan melengkapi buku-buku sesuai dengan kebutuhan murid
  • membuat internet gratis pada setiap sekolah , sehingga memudahkan murid dan guru mengakses ilmu pengetahuan
  • memberdayakan perguruan tinggi yang ada dengan meningkatkan kualitas dengan cara memberikan kredit atau kerjasama pemerintah dengan lembaga pendidikan tinggi berupa joint operation
4. Lembaga pemerintahan :
  • membuat lembaga-lembaga pemerintah menjadi lembaga pelayanan masyarakat berstandard ISO
  • membuat lembaga pendidikan pegawai yang berorientasi pendidikan pelayanan masyarakat
  • membuat lembaga kontrol masyarakat yang terdiri dari perwakilan masyarakat setiap 1 kelurahan 1 wakil yang berfungsi sebagai lembaga kontrol aplikasi kinerja lembaga - lembaga pelayanan masyakat (di ibaratkan sebagai auditor kinerja lembaga pemerintah), lembaga ini dipilih oleh masyarakat
  • memberikan reward kepada lembaga/individu pegawai yang berprestasi
  • memberikan punish kepada lembaga/individu pegawai yang tidak berprestasi
Yang menjadi pertanyaan apakah APBD daerah cukup untuk membiayai ke empat target tsb, kita akan menjawabnya dengan sangat gampang "dengan cara menciptakan pemerintahan yang transparan" sehingga tidak terjadi penyimpangan dana pemerintah ketangan yang tidak berhak, seperti data yang terkumpul saat ini hampir - hampir disetiap pengeluaran keuangan pemerintah terjadi penyimpangan hampir mencapai 40% dan dengan terbuktinya pejabat pemerintah (walikota/bupati) dan anggota DPR tertangkap tangan melakukan tindakan korupsi yang berakibat APBD yang semestinya dipergunakan untuk membangun masyarakat yang sejahtera digunakan untuk kepentingan kesejahteraan pribadi-pribadi para pejabat dan keluarganya.

Saya yakin inilah mimpi "Par Siantar sejati" membuat kota ini menjadi "Kota Pendidikan dan Kota Bisnis" seperti tahun 60-an kota ini adalah kota pendidikan dengan banyaknya pejabat di era tahun 70-an adalah produk lembaga-lembaga pendidikan yang ada dikota Pematang Siantar dan kota ini juga dikenal sebagai kota dagang terlihat dari tingkat ekonomi pada tahun-tahun tersebut dengan tingkat pertumbuhan (jumlah warga) saudara-saudar kita dari etnis Tionghoa (para pedagang era tsb) yang begitu besar dibandingkan daerah yang mengelilingi Pematang Siantar.

Dan yakinlah sesuatu itu "dimulai dari mimpi yang sederhana" (baca: riwayat saya-kota Siantar dan "perbedaan" di http://www.karyantajsinulingga.bloger.com/). Dan mimpi itu diwujudkan dalam dunia nyata.

Senin, 08 September 2008

Komunitas "Par SIANTAR & Par RINDAM"

Kota Pematang Siantar terletak diantara 2º54'40'' - 3º01'09'' LU dan 99º01'10''-99º06'23'' BT. Posisi Kota Pematang Siantar ada dibagian Timur Propinsi Sumatera Utara pada ketinggian tempat 400 m diatas permukaan laut dan kondisi wilayah relatif bergelombang. Luas wilayah Kota Pematang Siantar 79,971km² secara administratif terdiri dari 6 Kecamatan dan 43 Kelurahan dengan jumlah penduduk 241.480 jiwa (sumber dari http://www.pematangsiantar.com/).

Kota ini dihuni berbagai etnis dan agama (baca "Riwayat saya-kota Siantar dan perbedaan di http://www.karyantajsinulingga.blogspot.com/), kota ini terbiasa dengan kehidupan pluralisme, kota ini hidup karena menghargai perbedaan, kota ini bisa berdamai dengan ketidaksamaan. Tapi kota ini tidak berkembang secara ekonomi, sehingga ditingalkan generasinya dan pergi ketanah rantau. Padahal potensi ekonomi kota ini cukup bagus karena dikelilingi kabupaten & kota yang kaya (terutama Siamlungun, Asahan, Tebing Tinggi, dll) dan merupakan lintasan ke salah satu warisan keajaiban dunia: danau Toba, sebenarnya kota ini bisa dibangun seperti konsep membangun negeri Singapore menjadi kota lintasan, dengan keunggulan multi etnis dan agama sehingga secara psikologis hambatan membangun kota ini menjadi kota trading/dagang relatif lebih gampang. Karena masyarakatnya sudah terbisa menerima perbedaan.



Disalah satu bagian kota ini terletak markas militer yang namanya selalu berubah - ubah (dari RINDAM berubah menjadi KODIKLAT, dst) tetapi anak-anak yang terlahir sekitar tahun 1960 - an saat bapak mereka tugas dikesatuan pendidikan para tentara ini tetap menyebutnya "RINDAM" singkatan dari Resimen Induk Kodam dan tempat inilah para orang tua mereka mengabdi sebagai pelatih tentara dengan pangkat mulai dari prajurit sampai perwira menengah dan saat ini diantara anak-anak tentara RINDAM ada yang bertempat tingga di sekitar JABODETABEK menjadi perantau, karena rindu akan tempat dibesarkan, mereka membentuk kumpulan sosial (komunitas) dalam bentuk arisan "mantan anak RINDAM Pematang Siantar" yang ketuai oleh Binsar Simanjuntak, dalam perjalanan dibutuhkan juga suatu wadah berbisnis (wadah ekonomi) anak-anak ini (yang saat sekarang rata-rata sudah berusia diatas 35 an tahun) membentuk koperasi dengan nama "Koperasi Mantan Anak RINDAM Pematang Siantar" disingkat menjadi "KOMARIS" yang diketauai oleh Eddy Sanusi Silitonga dan kedua komunitas ini di Seketarisi oleh Anto Ginting , dengan bisnis utamanya simpan pinjam dan distribusi barang (distribusi AMDK merek MECIHO), dalam perjalanan waktu banyak teman-teman mereka yang berasal dari Kota Pematang Siantar yang dibesarkan bukan di lingkungan RINDAM Pematang Siantar yang ingin bergabung, inilah cikal bakal "Par SIANTAR & Par RINDAM" sebagai tempat berkumpul dan bersosialisasi sebagai orang yang besar dari kota yang sama "Pematang Siantar" .



Kota ini dibaratkan sebuah kota yang kelihatannya sebagai kota matahari terbenam, kota ini ditinggal generasi mudanya dan pergi merantau seperti umumnya kota-kota diluar Jakarta. Kota ini indah tapi sebentar lagi akan gelap karena generasi mudanya yang produktif pergi meninggalkannya dan generasi yang tinggal mempunyai culture lama tidak melihat peluang yang ada yang diberikan kota yang indah ini, mereka megharapkan ada sang Dewa datang membawa kebahagiaan. Dari generasi yang merantau ada pengalaman baru didapatkan, ditanah perantauan mereka bisa kerja keras dan tahan banting, ada yang sudah di perantauan menjelang seperampat abad dengan kondisi yangmemprihatinkan (hidup pas-pasan) tetapi mereka masih bisa bertahan, ini yang mungkin sulit ditemukan pada generasi muda yang tinggal di tempat asal, padahal potensi yang ada untuk hidup lebih baik masih banyak disediakan kota ini.

Dengan adanya komunitas ini diharapkan generasi yang tahan banting diperantauan ini mau kembali ke Pematang Siantar dengan bekal pengalaman membangun ekonomi lebih baik dan mengambil peluang yang diberikan kota ini kepada generasinya. Dengan komonitas "Par SIANTAR & Par RINDAM" mereka belajar berorganisasi dan belajar mengembangkan ekonomi untuk bekal kembali ke tanah yang mebesarkan mereka ke kota yang mereka tinggalkan kota yang indah seperti matahari yang akan terbenam dan sebentar lagi akan gelap. Dengan kota ini di isi oleh generasi yang mau membangun pribadi-pribadi unggul diharapkan saat malam tiba masih indah, masih ada kehidupan dimalam hari, kota ini tidak tertidur hanya bisa bermimpi. Dan kota ini menjadi "terang dan bebas dari kegelapan". Semoga.